25 Mei 2013

Dakwah gak slamanya manis, Bro

Dakwah adalah cinta (Anis Mata)
Cinta gak slamanya manis, Bro (Sule)
.:. Dakwah gak slamanya manis, Bro ^_^

Diatas adalah simpulan bodoh saya tentang dakwah. Kalau selalu mendengar bahwa dakwah itu pait legit, rasanya muncul kelesuan dan harapan keberhasilan 101% di tiap agenda dakwah terlalu meluap-luap. Iya, itu saya rasakan di beberapa agenda dakwah yang hasilnya berupa jumlah peserta yang datang hanya hitungan jari tangan dan kaki. Ada semangat yang roboh. Garis wajah yang melekuk tekuk. Ah, nambah pait, pait, pait.. Astaghfirullah.. hahaha

Saya mengusulkan kalau redaksi dari kalimat, "dakwah itu pahit" diubah menjadi "dakwah itu gak slamanya manis". Ini mengandung makna:
1. Dakwah kadang-kadang manis
2. Dakwah kadang-kadang gak manis ; bisa asem, asin, dan paling parah : pait..

Nikmati dakwah dengan rasa nano-nano. Terang-redup perjalanan kan sampai di sebuah kenangan. Kerja-kerja heroik bersama saudara di sana begitu mesra. Ada tawa, canda, luka, sobek, keringat, air mata.. Ah, bukankah begitulah dakwah? Kalau hanya manis, mungkin udah dari dulu; bahkan di zaman Rasulullah, dakwah ini sudah menang. Roda menang-kalah berputar, ikut berotasi bersama bumi, berrevolusi dengan pergantian malam-siang. Menjadi microba, unit kecil dari upaya kemenangan Islam secara universal. Tak apa, Faman ya'mal mitsqo ladzarrotin khoiroy yaroh.

Semangatlah saudaraku..
Sandarkan lelahmu,
Allah menghisab setiap payah dipundakmu..
Allah menyebut namamu di ArsyNya..
Nanti kita reuni di syurgaNya ya..
Aamiin ya Robb..

"Dibawah langitMu, bersujud semua.. Memuji AsmaMu..
dan Bertasbih semua, Tunduk, berharap Cinta dan KasihMu.." (Opick)

Special dedicated for Nadwah Unsri 2012-2013
Kutitip salam pada pundak angin malam, semoga esok kau tetap bertahan di atas keyakinan.. :)

24 Mei 2013

Kampanye-Dialog-Partai dakwah

Hari itu, musim kampanye di kampus. Seperti biasa, agenda-agenda dakwah siyasah mengencangkan targetan. Mulai dari konsolidasi ADK, penyebaran angket dan kawan-kawan. Pilpresma dan wapresma yang hanya 2 pasangan itu, acapkali menuai berbagai opini publik. Bahkan sering dikait-kaitkan dengan kepartaian. (Mana) boleh partai masuk kampus! :)

***
"Ini mb Ana?"
Tegur seorang yang sebangku di bus menuju kampus.
Aku tersenyum sembari berusaha keras melihat adik ini karena faktor baru bangun tidur. :P
"Oh.. A****.. Dari tadi di samping mb ya, Dek?" Padahal dah 3/4 perjalanan, baru sadar kalau ada adik tingkat beda prodi di sebelah.
"Iya, Mb."
Dilanjutkan dengan pembicaraan mengenai aktivitas kuliah dan organisasi kampus. Sampai suatu bahasan tentang Pemira di kampus..

"Dek, bentar lagi pemilihan presma wapresma ya?"
"Iya, Mb. Ohy, Mb, yang no. 2 itu dari PKS ya?"
Deuguaaarr.. Sambil tetap tenang, aku lanjutkan pembicaraan. "Maksudnya Dek?"
"Iya, Mb. Adek denger gitu. Katanya yang jilbab-jilbab lebar tu juga orang PKS."
"Terus..terus.."
"Mereka itu gak mau salaman sama cewek yang cuma pake lepis, gak pake jilbab. Pokoknya, yang sama jilbab kayak mereka baru disalamin."
*istighfar.. Okeh.. *eksklusif dijadikan kambing hitam
"Jilbab mb lebar gak dek?"
"Iya, Mb"
"So, mb orang PKS ya?"
Si adek tersenyum..
"Mb bukan orang PKS dek. Mb orang dakwah. *sembari menelisik lebih jauh* Adek denger kabar ini dari siapa?" Tetap tersenyum.
"Temen-temen di FISIP mb. Kata mereka, orang2 PKS itu mau berkuasa. Dananya dari mana coba mb kalo gak dari sana?"
Sambil menghirup udara agak panjang, aku jawab, "Dana itu, kami sokongan dek :) Mb tadi sempet nyinggung dakwah kan? Jadi dakwah itu bisa ke seluruh elemen dek. Bukan cuma di LDF dan LDK saja. Adek pernah ikut mentoring? Bermanfaat gak?"
Si adek mengangguk sambil berkata, "Ya, Mb"
"Kalau No. 2 gak kepilih belum tentu orang lain juga merasakan bermanfaatnya mentoring. Sayang khan? *sembari direct selling* Terus, kalo yang No. 1 itu dari golongan(partai) mana?"
"Gak tau mb,,,,"
"HMI dek, yang afiliasinya ke (partai) Golkar"
"Iya, Mb?"
"Adek perhatiin saja warna mereka. adek cari kaitan mereka. Kalau ternyata ada (fitnah) seperti ini, siapa yang sebetulnya menginginkan kekuasaan?"
"Iya, Mb"
"Dan kalo soal dana, mb juga denger kalo mereka juga dapet suntikan dana dari sana."
"Oh..gitu ya Mb. Ternyata mereka yang salah ya Mb?"
"Mb gak berani dek membenarkan atau menyalahkan. Adek udah dewasa, udah mampu memilah yang mana bener yang mana salah."
Sampai akhirnya, kami sampai di fakultas tercinta, FKIP.
"Mb, adek mau ikut Nadwah.."
***

Sebenarnya, aku juga gak ngerti soal politik di kampus. Tapi, sangat sadar kalau pemuda (mahasiswa) menjadi penggebrak utama di kalangan civitas academic itu. Pelan-pelan, aku mempelajari buku "Inilah Politikku" karya Muhammad Elvandi yang direkomendasikan intuk Pencerahan Intelektual dan Inspirasi Negarawan Muslim. Terkuak seluruh pertanyaan, politik Islam sebagai sarana dakwah.
"Jawaban yang paling tepat terhadap pertanyaan di atas ialah perkataan Ibnu Aqil (Penulis buku Standar Bahasa Arab terpopuler dan paling diperhitungkan sepanjang masa (kitab Alfiyyah) bahwa as-siyasah asy-syar'iyyah adalah Segala aktivitas yang membuat manusia lebih dekat kepada kebaikan dan lebih jauh dari kerusakan, walaupun tidak dibuat oleh Rasul dan tidak ada pula wahyu yang diturunkan untuknya  sebagai mana dinukil oleh Ibnu Qayyim dalam kitab At Thuruq Al-Hukmiyyah"

Masih dari buku yang sama, disebutkan bahwa, "Sistem kekhilafahan adalah murni produk manusia yang diseduaikan dengan kondisi saat itu dan boleh berubah sesuai dengan kebutuhan zaman. Ia adalah hasil ijtihad Abu Bakar, juga ijtihad tokoh-tokoh saat itu. Sistem kekhilafahan tidak ada contohnya di zaman Rasulullah, namun begitu, para Khulafaurrasyidin membangun sistem tersebut berdasarkan prinsip-prinsip Islam yang tetap (tsawabit), sehingga sistem khilafah yang baru dan boleh berubah-ubah (mutaghayyirat) tersebut tetap sejalan dengan prinsip-prinsip Islam"

Contoh kasus. Ada sebuah perdagangan bar di tempat-tempat maksiat yang meresahkan generasi masa depan, siapakah yang lebih berhak menutup tempat itu? Seribu tanda tangan ustadz atau satu tanda tangan gubernur? :)

Politik sebagai sarana aplikasi dari pesan implisit hadits Rasulullah, bahwa, "Barangsiapa melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemah iman" (Riwayat Muslim)

Lantas, apa yang salah dengan partai dakwah yang memegang prinsip Islam? ^_^

21 Mei 2013

Muhasabah Cinta

Wahai.. Pemilik nyawaku
Betapa lemah diriku ini
Berat ujian dariMu
Kupasrahkan semua padaMu..

Tuhan.. Baru ku sadar
Indah nikmat sehat itu
Tak pandai aku bersyukur
Kini kuharapkan cintaMu

Kata-Kata Cinta terucap indah
Mengalir berdzikir di kidung do'aku
Sakit yang kurasa biar jadi penawar dosaku
Butir-butir cinta air mataku
Teringat semua yang Kau beri untukku
Ampuni khilaf dan salah selama ini ya Ilahi
Muhasabah cintaku..

Tuhan..kuatkan aku
Lindungiku dari putus asa
Jika ku harus mati, pertemukan aku denganMu..


By : edCoustic

15 Mei 2013

Antara Dua

Hari ini seperti biasa, nyapu, nyuci, masak, ber-birrul walidain ria. Yah..walaupun gak bersih2 amat,juga gak enak2 amat. Sedangkan disana *nunjuk kampus tercinta* ada agenda yg seharusnya dihadiri. Apa mau dikata, mengambil hati ayah-ibuk harus jadi prioritas dari kemarin sampe besok biar jum'at-sabtu-minggu ini bisa diizinin keluar. *eh, ternyata ada udang di balik batu.. hehe ^_^

Hari ini terhitung adalah hari ke-5 kepulangan Ibu umroh. Alhamdulillah, beliau sehat wal'afiat walau lelah tampak tergurat. Gini nih, enaknya nitipin sesuatu sama Yang Maha Penjaga, Ibu sehat, tak ada yang kurang dari beliau; hati adem, tenang. :)

Selama ibu pergi, ada Bicek, *plembangbangetkhan?* Bicek ini adik kandung Ibu yang merantau di Kemayoran Jakarta. Beliau juga yang mengasuh ane waktu masih imut (dulu) alias batita. Memasuki usia 56 tahun, sanguin nya gak berubah, malah nambah. Doyan bikin ketawa, sampe gak terasa 13 hari dilewati dengan lelucon nya yang kuno, garing dan sedikit berbahaya..hihi :D

Mulailah evaluasi 13 hari antara Ibu dan Bicek dg logat Palembang yang ane bahasakan, "Ana gimana? Sering pergi terus, gak?" tanya Ibu. "Ya..gitulah..Hari ini pergi, besok enggak. Selang seling" Jawab bicek dengan nada mengejek. Hihi.. Ane cengengesan aje.. Padahal deretnya 2 hari pergi, 2 hari kagak. Itu yang bener.. ^_^

Abu Ya'la dan Thabrani di dalam ah Shaghir dan al Ausath meriwayatkan hadist dari Anas ra : Seorang lelaki datang kepada Rasulullah saw seraya berkata : "Sesungguhnya aku ingin jihad tapi aku tidak mampu." Nabi saw bertanya "Apakah salah seorang dari kedua orang tuamu masih ada?" Orang itu menjawab, "Ibuku". Nabi saw bersabda :"Menghadaplah kepada Allah dengan berbuat baik kepadanya. Jika kamu telah melakukan itu maka kamu sudah haji, umroh dan jihad." Sanadnya hasan.

Abu Said al Khudri berkata : Seorang lelaki berhijrah kepada Rasulullah dari Yaman dan ingin jihad, lalu Rasulullah bertanya, "Apakah di Yaman masih ada orang tuamu?" "Ya". Nabi saw bertanya, "Apakah keduanya telah mengizinkanmu?" Orang itu menjawab, "Tidak" Nabi saw bersabda,"Kembalilah kepada kedua orag tuamu dan mintalah izin dari keduanya. Jika keduanya mengizinkan maka kamu boleh ikut berjihad, jika tidak mengizinkan maka kamu harus berbuat baik kepada keduanya, karena hal itu merupakan sebaik-baik apa yang kamu pakai bekal untuk bertemu Allah setelah tauhid." Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Hibban

Kesulitan memperoleh izin dari orang tua memang dialami oleh setiap kita (aktivis dakwah), khusus buat yang nggak nge-kost di daerah kampus. Bahkan, perlu pake' surat permohonan izin kepada orang tua. Bakal ribet khan? Tenang, ini hanya perlu disiasati. yah, dengan menarik perhatian mereka ketika di rumah. Jangan sampai, kita rajin di lapangan dakwah, tapi malas di rumah sehingga ketika meminta izin agenda dakwah, sulit sekali diberi ongkos jalan. *eh? -__-

Kembali pada management diri dalam keluarga. Cara kita membahasakan aktivitas dakwah kita pada orang tua, dengan santai. Gunakan bahasa di rumah. Jangan terburu-buru bilang mau syuro' tanpa menjelaskan maknanya. Bilang mau liqo' tapi gak dijelasin ke mana liqo'nya. Terbuka sama keluarga itu perlu. Sembari melakukan kewajiban kita sebagai anak yang rajin, sholih, pinter ngaji, dsb :P

Terus, apalagi ye? hmm...

Mengambil hati orang tua itu keharusan agar dapet ridho Allah en mudah dapet izin buat kita berdakwah di kemudian hari. ^___^

Gini aje lah coretan sore hujan hari ini; agak ngalor ngidul, hihi

14 Mei 2013

Amanah itu kudu' Aktivis miliki

Bismillahirohmaanirrohiim

Tiada yang salah dalam diri aktivis dakwah. Kesehariannya dirutinkan dalam hal-hal baik; amal sholih, amal wajiha dan perenungan/evaluasi amal. Satu per satu langkah, dirinya tumbuh dalam jama'ah. Menyertakan diri dalam membangun peradaban Islam. Meleburkan hati dalam ikatan aqidah. Menyebarkan pesona manfaat tatkala ia ada.

Aktivis dakwah; aktif dalam tarbiyah dan harokah; memiliki warna-warni indah. Ada yang diam; kerjanya menawan. Ada yang luar biasa bekerja namun kalah menjaga hati lalu segera memperbaiki. Ada yang biasa-biasa saja, tapi komitmennya terjaga. Serba berkarakter dengan cerita tersendiri.

Aktivis terikat jelas dengan dunia amanah. Memiliki kontrak kerja antara komitmen dan Tuhannya. Tak akan selesai hingga kaki menginjak surga. Sulit dipercaya ketika berlabel aktivis menyia-nyiakan amanah. Terlepas dari bahaya atau tidaknya dalam menyia-nyiakan amanah, amanah memiliki efek positif bagi pelaku. Mengapa tidak? Ia merupakan indikasi dari amal yaumi, ruhi si aktivis. Keberadaannya membawa dinamika kesholihan. Ketika amal ruhi nya meroket, tak jarang amanahnya melambung. Kendati amanahnya melambung, ia tak lupa untuk meng'iqob diri karena celah kecil yang tak diingini.

Layaknya Umar bin Khattab yang memukul kedua kakinya dengan cemeti seraya berkata pada dirinya "Apakah yang telah kamu perbuat hari ini?". Atau, seorang Abu Thalhah yang menshadaqohkan kebun demi mencari ridho Allah karena terganggu konsentrasinya dalam sholat, sebagai wujud penyesalan dan harapan untuk menggantikan apa yang telah luput darinya.

Amanah akan jadi penyesalan jika disia-siakan. Hal ini juga bukan alasan syar'i menolak sebuah amanah karena 'takut' menyesal. Kerjakan saja seoptimal mungkin. Begitulah dakwah, tubuh terseok-seok, diseret-seret, jatuh terluka. Memang begitu dari dulu. Ketika Nabi-Nabi meneriakkan kalimah Allah, menyampaikan yang haq, mengajak pada kebenaran, hanya segelintar menjawab 'sami'na wa atho'na'. Ini sudah biasa. Sekali lagi, kerjakan saja seoptimal mungkin! Biarlah Allah, RasulNya dan orang-orang mukmin yang melihat kerja kita.

Dengan pertolonganNya, dakwah kita akan menang. Lantas, bagaimana nashrullah akan datang kalau kita tidak mendekatiNya? Sebenar-benar mendekati, dengan cinta dan pengabdian. Iya, dengan amal yaumi, perbaikan ruhiyah. Bunga cinta itu harus disiram dengan pupuk kesholihan agar kerja amanah mekar menawan. Dipandang orang, lalu mereka tertarik dan menerima dakwah kita. Terkesan mudah, namun yang penting, lakukan dulu!

Amanah layaknya sebuah madrasah (sekolah) ; tempat belajar memperbaiki diri, menjaga pergaulan dengan lawan jenis, memperkaya fikriyah karena menambah tsaqofah, wahana aplikasi dari teori-toeri tarbiyah serta (tak jarang) kerja itu memperkuat jasad kita. Semakin faham dengan urgensi ruhiyah dalam dakwah, maka aktivis akan semakin faham dengan mekanisme dan substansi dakwah. Dakwah tanpa ruhiyah, kalah. Dakwah akan menang bersama Allah. Selanjutnya, mekanisme berupa kerja-kerja lapangan seperti pelaksanaan agenda dan substansi dakwah seperti majelis syuro', tim khusus, hizbt dan sebagainya, akan mematangkan dirinya di tubuh dakwah ini. Maka, semakin butuh aktivis pada dakwah, segala pertanyaan berbentuk 'amniah' dalam amanah akan terjawab seiring perjalanan waktu.

Minimal yang kita peroleh dalam menjalankan amanah adalah ukhuwah antara kita(aktivis dakwah) karena Allah. Hingga nanti di surga, Rasul dan para syuhada pun iri melihat mimbar cahaya yang diperuntukkan bagi kita yang saling menyayangi karena Allah; yang dijanjikan dalam lisan Rasulullah. Tidakkah ini menarik?

Amanah akan menyadarkan kita bahwa ia adalah :
1. Sarana taqorrub Ilallah (mendekati diri pada Allah). Semakin berat amanah, semakin dekat pada Allah.
2. Sarana nafi'un lighoirihi (bermanfaat untuk orang lain). Sebaik-baik manusia, sebanyak-banyak menebar manfaat.
3. Salah satu sarana tarbiyah dzatiyah (pembekalan mandiri). Pribadi kian sholih, kemenangan kian mendekati.

Wallahu'alam bisshowwab..

12 Mei 2013

Bait untuk Qiyadah

Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh..

Salam untukmu, para qiyadah dakwah
Salam untukmu, para mujahid/mujahidah
Salam istimewa dengan segenap cinta..

Sulit bagiku untuk tidak percaya
Ujian Allah mengawali kemenangan kita
Lantas, bagaimana keadaanmu sekarang?

Sempatkah kau fikirkan dirimu?
Kerut keningmu meninggalkan bekas
Masih saja kau tersenyum dengan ikhlas

Sudahkah kau rehatkan dirimu?
Ragamu sudah menampakkan kelelahan
Tetap saja geloramu mengobar, menepis badai..

Kami tidak tahu,
Kekejian apa yg sudah melanda jiwamu
Siapa 'mereka'?
Mengapa sulit menerima dakwah kita?

Hujatan, fitnah, dan makian sudah jadi santapan
Menggerogoti setiap ketsiqohan
Menggersangkan iman
Merosok pada ruang ketidakmungkinan

Kepada Qiyadah yang dicintai Allah,
Terima kasih atas semangat yang tak pudar
Terima kasih atas cerita pengorbanan
Terima kasih atas segala bakti dan bukti
Jazakumullah khairon jaza'

Maafkan bila kami hanya menyaksikan
Maafkan bila kami hanya banyak bertanya
Maafkan bila kami hanya mendo'akan
Afwan jiddan

Saat aku mengintai sebuah janji,
"Inna fatahna laka fatham mubiina.." (QS Al Fath :1)
Aku semakin yakin menjalani jalan ini..
Ya Robbi, tsabbit qolbuna 'ala dinnik(a)..

06 Mei 2013

Menggugat Jiwa

"Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya" (Asy Syams : 9-10)

Edisi Tadzikyatun Nafs (mensucikan diri) adalah pilihan menarik ketika hati mulai meradang akibat kenafikan diri, sedang jiwa mulai menarasikan keradangan itu.

'Maka menjadi keharusan bagi setiap orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk tidak lalai melakukan muhasabah terhadap jiwanya dalam memperketat dalam berbagai gerak, diam, lintasan dan langkah-langkahnya.' Sebuah kalimat yang dikutip dari buku "Mensucikan Jiwa" oleh Sa'id Hawwa yang terkenal kental spritualitasnya.

"...Di hari yang baru ini Allah telah memberi tempo padaku. Dia memperpanjang usiaku dan melimpahkan nikmat kepadaku dengan usia tersebut. Seandainya Allah mematikan aku niscaya aku akan berandai-andai sekiranya Allah mengembalikan aku ke dunia sehari saja agar aku dapat beramal shalih.."

Anggaplah, wahai Jiwa!
Engkau telah meninggal dan dikembalikan lagi ke dunia, 
Janganlah sampai kamu menyia-nyiakan hari ini!
Karena setiap nafas, mutiara yang tiada terkira nilainya..

 Ketahuilah, wahai Jiwa!
Sehari semalam adalah dua puluh empat jam,
Bersungguh-sungguhlah mengumpulkan bekal!
Jangan kau biarkan perbendaharaanmu kosong!
Jangan kamu cenderun pada kemalasan, kelesuan dan santai,
Sehingga kamu tidak dapat mendapat derajat 'illiyin, sebagaimana orang selainmu telah mendapatkannya..

Penetapan syarat (musyarathah) pada jiwa menjadi tuntutan bagi pedagang di jalan akhirat. Pedagang, yang melakukan perhitungan hingga akhirnya memperoleh keuntungan. Ia untung ketika syarat 'keberuntungan' itu terpenuhi. Menjadi wajiB (qolqolah qubro) membuat syarat bagi jiwa sang pedagang yang melibatkan diri pada perdagangan yang dapat menyelamatkan dirinya dari azab yang pedih. lih As Saff : 10-12.

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar." (At Taubah :111)

Begitu besar reward Allah bagi para syuhada, Surga. Begitu syahdu pertanyaan Allah dalam ketepatan janji. Sungguh, diri ini malu ketika menginginkan surga namun ragu akan janjiNya. Sungguh, jiwa ini tak layak berkoar-koar dalam jihad namun begitu rapuh ketika badai mendekat. Allahu Robbi, teguhkan!

Jiwaku,
Engkau adalah hamba Tuhanmu,
Yang tercipta dina dari tempat yang hina,
Engkau bukanlah siapa,
Hanya segumpal tanah!

Jiwaku,
Jangan kau lalaikan kewajibanmu,
Kewajiban ialah hak Tuhanmu,
Biasakan taqorrub Ilallah
Bukankah kau mengharapkan surga dengan pengembalian yang tenang?

Jiwaku, 
Cukupkan keluhanmu,
tak akan itu berarti bagimu,
Dia ingin kau kembali pada Tuhanmu,
Di setiap sujud-rukuk di atas sajadahmu.

Jiwaku,
Lakukan kesholihanmu,
Tetapkan targetmu,
Periksa amalmu,
Adakah celah yang bukan untuk Tuhanmu? Istighfarlah..

Jiwaku,
Kau harus tahu,
Aku pun ingin kembali ke keharibaan Tuhanmu,
Tentu saja bersamamu,
Dalam cahaya iman yang terselimut dalam sebuah kata, rindu..

Menderulah duhai Jiwaku..
Bersemangatlah dalam ahsanul amalah-mu..
Tingkatkanlah kualitas dalan kuantitas kerjamu..
Lintasilah paku-paku yang merajam azzammu..
Ingatlah, kau miskin waktu..
Entah di detik ke berapa, kita harus menghadap Tuhanmu, Tuhanku..
Maka, kerjakanlah dengan cinta agar sebuah harmoni antara kau dan aku menjadi nyata...